Setiap contoh di bawah ini memiliki tiga bagian: teks asli, glosa harfiah yang menjelaskan cara kerja setiap kata, dan terjemahan alami. Glosa menggunakan beberapa label singkatan agar tetap ringkas. Jangan khawatir untuk menghafalnya — ini adalah referensi yang bisa kamu kembali lihat kapan saja.
Orang dan jumlah · 1sg / 2sg / 3sg — orang pertama / kedua / ketiga tunggal (saya, kamu, dia) · 1pl / 2pl / 3pl — orang pertama / kedua / ketiga jamak (kami/kita, kalian, mereka)
Gender dan kasus · m / f / n — maskulin / feminin / netral · sg / pl — tunggal / jamak · m.sg — gabungan: maskulin tunggal (begitu pula f.pl, n.sg, dst.) · NOM / ACC / GEN / DAT / INS / LOC — kasus gramatikal (nominatif/akusatif/genitif/datif/instrumental/lokatif) — peran yang dimainkan kata tersebut dalam kalimat
Kala dan aspek · PRES — present (kini) · PRET — preterit (peristiwa lampau yang sudah selesai) · IMPF — imperfek (situasi lampau yang berlangsung atau kebiasaan) · FUT — futur (akan datang) · PERF — perfek (tindakan yang selesai dengan relevansi pada masa kini) · PROG — progresif (tindakan yang sedang berlangsung, misalnya sedang makan) · COND — kondisional (akan…)
Modus · IND — indikatif (pernyataan biasa) · SUBJ — subjungtif (ketidakpastian, harapan, keraguan) · IMP — imperatif (perintah) · INF — infinitif (bentuk kamus: pergi, makan)
Lainnya · REFL — refleksif (tindakan pada diri sendiri: diriku sendiri, dirimu sendiri) · PERS — a personal (khusus bahasa Spanyol — menandai objek langsung berupa manusia) · HON — honorifik (bentuk yang sangat sopan, umum dalam bahasa Jepang/Korea) · TOP / SUB / OBJ — penanda topik / subjek / objek (bahasa Jepang, Korea) · CL — klasifikator (bahasa Mandarin, Jepang, Korea — kata penggolong untuk kata benda) · NEG — negasi
Klausa utama dalam bahasa Jerman mengikuti aturan V2: verba terkonjugasi selalu menjadi elemen kedua, apa pun yang muncul di awal kalimat. Subjek bisa berada sebelum atau sesudah verba tersebut. Dalam klausa subordinat (yang diawali oleh weil, dass, wenn, ob...) verba terkonjugasi berpindah ke posisi paling akhir. Ketika sebuah kalimat memiliki dua bagian verba (modal + infinitif, verba bantu + partisip, verba berprefiks terpisah), keduanya membentuk sebuah 'kurung': verba terkonjugasi tetap berada di posisi V2 sementara bagian lainnya didorong ke akhir klausa. Semua unsur lain (objek, keterangan waktu, cara, tempat) terjepit di dalam kurung tersebut.
Setiap kata benda dalam bahasa Jerman bersifat maskulin (der), feminin (die), atau netral (das), dan artikelnya harus dipelajari bersama kata itu sendiri. Akhiran kata memberikan petunjuk yang kuat. Maskulin: kata benda yang berakhiran -er, -ling, -ich, -ig, sebagian besar nama hari, bulan, musim, dan kata-kata cuaca. Feminin: -e (sebagian besar), -heit, -keit, -ung, -schaft, -ion, -ie, -tät. Netral: bentuk diminutif -chen dan -lein (selalu), -ment, -um, sebagian besar kata untuk anak hewan, dan infinitif yang digunakan sebagai kata benda. Gender mengendalikan artikel, akhiran adjektiva, dan pronomina, sehingga sifatnya struktural dan sentral, bukan sekadar hiasan.
Bahasa Jerman menandai peran sebuah frasa nomina dengan empat kasus. Nominatif adalah subjek (yang 'melakukan/mengalami' tindakan). Akusatif adalah objek langsung (yang secara langsung dikenai tindakan) dan juga diwajibkan oleh beberapa preposisi (durch, für, gegen, ohne, um). Datif adalah objek tidak langsung (penerima, yang 'kepadanya') dan diwajibkan oleh aus, bei, mit, nach, seit, von, zu serta oleh banyak verba (helfen, danken, gefallen). Genitif menunjukkan kepemilikan atau relasi dan mengikuti wegen, trotz, während, statt. Preposisi dua-arah (in, an, auf, unter...) mengambil akusatif untuk pergerakan-ke-dalam dan datif untuk lokasi statis.
Artikel berubah menurut gender, jumlah, dan kasus. Artikel definit: Nominatif der/die/das/die, Akusatif den/die/das/die, Datif dem/der/dem/den (+ kata benda-n), Genitif des/der/des/der (+ kata benda-(e)s pada maskulin/netral). Artikel indefinit ein/eine: Nominatif ein/eine/ein, Akusatif einen/eine/ein, Datif einem/einer/einem, Genitif eines/einer/eines. Tidak ada bentuk jamak untuk artikel indefinit (cukup kata benda telanjang, atau gunakan 'keine' untuk 'tidak ada'). Posesif (mein, dein, sein, ihr, unser, euer, ihr/Ihr) dan 'kein' berdeklinasi persis seperti 'ein' dan disebut ein-words.
Nominatif: ich, du, er/sie/es, wir, ihr, sie/Sie. 'du' adalah tunggal informal; 'ihr' adalah jamak informal; 'Sie' (dengan huruf kapital) adalah formal, baik tunggal maupun jamak. Pronomina juga berubah menurut kasus. Akusatif: mich, dich, ihn, sie, es, uns, euch, sie/Sie. Datif: mir, dir, ihm, ihr, ihm, uns, euch, ihnen/Ihnen. Tidak ada genitif terpisah dalam penggunaan sehari-hari; kepemilikan diungkapkan dengan adjektiva posesif (mein, dein, sein, ihr, unser, euer, ihr/Ihr). Pronomina orang ketiga harus sesuai dengan gender gramatikal kata benda, bukan jenis kelamin biologis, sehingga sebuah meja (der Tisch) disebut 'er'.
Verba Jerman yang beraturan mengambil batang kata (infinitif dikurangi -en) ditambah akhiran persona: -e, -st, -t, -en, -t, -en (ich, du, er/sie/es, wir, ihr, sie/Sie). Verba yang batangnya berakhiran -d/-t menyisipkan -e- sebelum -st dan -t (arbeitest, arbeitet). Banyak verba kuat mengubah vokal batang kata pada du/er/sie/es dalam present (a → ä, e → i/ie). Empat verba tak beraturan terpenting adalah sein (menjadi/adalah), haben (memiliki), werden (menjadi / futur + pasif), dan gehen (pergi); bentuk-bentuknya harus dihafalkan.
Bahasa Jerman hanya memiliki satu present tense; ia mencakup simple present dan present continuous dalam bahasa Inggris. 'Ich lese' berarti baik 'saya membaca' maupun 'saya sedang membaca'. Present juga rutin digunakan untuk masa depan dekat ketika sebuah keterangan waktu membuatnya jelas ('Ich komme morgen' = 'Saya akan datang besok'). Verba kuat mengubah vokal batang kata pada persona kedua dan ketiga tunggal: fahren → du fährst, er fährt; sprechen → du sprichst, er spricht; sehen → du siehst, er sieht. Selain itu, akhirannya sepenuhnya beraturan: -e, -st, -t, -en, -t, -en.
Bahasa Jerman lisan menggunakan Perfekt untuk hampir semua peristiwa masa lalu: verba bantu haben atau sein (present tense) + Partizip II di akhir klausa. Sein digunakan dengan verba pergerakan atau perubahan keadaan (gehen, fahren, kommen, werden, sterben) dan dengan sein/bleiben itu sendiri; haben digunakan untuk semua yang lain. Präteritum (past sederhana: ich ging, ich machte, ich sah) adalah bentuk lampau tulisan/sastra dan digunakan dalam narasi; dalam percakapan, hanya sein, haben, werden, dan verba modal yang umumnya digunakan dalam Präteritum (war, hatte, wurde, konnte...).
Futur I dibentuk dengan present terkonjugasi dari werden + infinitif di akhir klausa: ich werde gehen, du wirst gehen, er wird gehen, wir werden gehen, ihr werdet gehen, sie werden gehen. Namun, dalam bahasa Jerman sehari-hari, tense ini terutama digunakan untuk mengungkapkan prediksi, janji, asumsi, atau niat kuat. Untuk peristiwa masa depan yang biasa, orang Jerman cukup menggunakan present ditambah kata keterangan waktu (morgen, nächste Woche). Futur II (werde + Partizip II + haben/sein) mengungkapkan sesuatu yang diasumsikan sudah selesai pada suatu titik di masa depan.
Verba lemah adalah verba Jerman yang bisa diprediksi dan sepenuhnya beraturan. Untuk mengonjugasikannya, ambil infinitif, hilangkan -en di akhir, lalu tambahkan akhiran persona: -e, -st, -t, -en, -t, -en. Vokal batang kata tidak pernah berubah (bandingkan dengan verba kuat seperti fahren / fährt). Verba 'machen' (melakukan, membuat) adalah model buku teksnya:
| Persona | machen (melakukan) | Akhiran |
|---|---|---|
| ich | mache | -e |
| du | machst | -st |
| er / sie / es | macht | -t |
| wir | machen | -en |
| ihr | macht | -t |
| sie / Sie | machen | -en |
Ketika batang kata berakhiran -d, -t, atau gugus konsonan yang akan menyulitkan pelafalan (-tm-, -ffn-, -chn-), sebuah -e- tambahan disisipkan sebelum -st dan -t. Verba 'arbeiten' (bekerja) menunjukkan hal ini:
| Persona | arbeiten (bekerja) | Catatan |
|---|---|---|
| ich | arbeite | beraturan |
| du | arbeitest | -e- disisipkan |
| er / sie / es | arbeitet | -e- disisipkan |
| wir | arbeiten | beraturan |
| ihr | arbeitet | -e- disisipkan |
| sie / Sie | arbeiten | beraturan |
Pola yang sama: reden (du redest), warten (du wartest), finden (du findest), atmen (du atmest), öffnen (du öffnest). Verba yang batangnya berakhiran -s, -ss, -ß, -z, -tz melebur dengan akhiran du dan hanya menulis -t: reisen → du reist, heißen → du heißt, sitzen → du sitzt, tanzen → du tanzt.
Untuk mengatakan 'saya ingin melakukan X', bahasa Jerman menggunakan verba modal 'wollen' ditambah infinitif telanjang dari verba utama di akhir klausa. 'Wollen' tidak beraturan pada bentuk tunggal (perubahan vokal o → i pada ich/du/er) dan merupakan salah satu dari enam verba modal inti. Catatan: 'wollen' bersifat kuat dan langsung. Untuk permintaan yang sopan ('saya ingin'), orang Jerman menggunakan 'möchte' (lihat bagian berikutnya). Mengatakan 'Ich will einen Kaffee' kepada seorang pelayan terdengar tidak sopan.
| Persona | wollen (ingin) |
|---|---|
| ich | will |
| du | willst |
| er / sie / es | will |
| wir | wollen |
| ihr | wollt |
| sie / Sie | wollen |
Polanya adalah: subjek + wollen terkonjugasi (di posisi V2) + ... + infinitif (di posisi paling akhir). Dalam klausa subordinat ('dass', 'weil', 'wenn'), verba modal berpindah ke posisi akhir, setelah infinitif. 'Wollen' juga bisa langsung mengambil kata benda tanpa infinitif ('Ich will einen Apfel' = Saya ingin sebuah apel), tetapi jika disertai verba, infinitif wajib digunakan dan tidak pernah digantikan oleh 'zu + infinitif' seperti yang terjadi setelah verba non-modal.
Futur I dibangun dengan present dari 'werden' ditambah infinitif dari verba utama di akhir klausa. 'Werden' sendiri tidak beraturan (du wirst, er wird):
| Persona | werden + Infinitiv | Bahasa Indonesia |
|---|---|---|
| ich | werde gehen | saya akan pergi |
| du | wirst gehen | kamu akan pergi |
| er / sie / es | wird gehen | dia akan pergi |
| wir | werden gehen | kami akan pergi |
| ihr | werdet gehen | kalian akan pergi |
| sie / Sie | werden gehen | mereka / Anda akan pergi |
Dalam percakapan sehari-hari, orang Jerman sering melewati Futur I dan menggunakan present sederhana dengan kata keterangan waktu: 'Ich rufe dich morgen an' (Saya akan meneleponmu besok). Futur I lebih disukai ketika ingin menekankan (a) sebuah prediksi atau asumsi tentang masa depan ('Es wird bald regnen'), (b) sebuah janji atau niat kuat ('Ich werde es nie vergessen'), atau (c) sebuah asumsi tentang masa kini ('Er wird wohl schon zu Hause sein' = Dia mungkin sudah di rumah). Bandingkan dengan 'going to' dalam bahasa Inggris: bahasa Jerman tidak memiliki konstruksi terpisah; baik 'will' maupun 'going to' dipetakan ke present tense + kata keterangan waktu atau Futur I, tergantung penekanannya. Jangan bingung antara 'werden + infinitif' (futur) dengan 'werden + Partizip II' (pasif) dan dengan verba penuh 'werden' yang berarti 'menjadi' ('Es wird kalt' = Cuacanya menjadi dingin).
Perfekt adalah tense lampau sehari-hari dalam bahasa Jerman lisan. Ia dibentuk dari dua bagian: verba bantu terkonjugasi di posisi V2 (baik 'haben' maupun 'sein' dalam present) dan Partizip II dari verba utama di posisi paling akhir klausa. Memilih verba bantu yang tepat sangatlah penting.
Gunakan sein ketika verba mengungkapkan: - pergerakan dari A ke B: gehen, fahren, kommen, fliegen, laufen, reisen, steigen, fallen - perubahan keadaan: werden, sterben, aufwachen, einschlafen, wachsen - tiga verba 'khusus': sein, bleiben, passieren / geschehen
Gunakan haben untuk semua yang lain, termasuk semua verba transitif (verba yang mengambil objek langsung) dan sebagian besar verba yang menggambarkan sebuah aktivitas tanpa perubahan lokasi.
| Verba bantu | Verba | Partizip II | Perfekt lengkap |
|---|---|---|---|
| haben | machen | gemacht | ich habe gemacht |
| haben | arbeiten | gearbeitet | du hast gearbeitet |
| haben | sehen | gesehen | er hat gesehen |
| haben | sprechen | gesprochen | wir haben gesprochen |
| sein | gehen | gegangen | ich bin gegangen |
| sein | fahren | gefahren | sie ist gefahren |
| sein | kommen | gekommen | wir sind gekommen |
| sein | sein | gewesen | ich bin gewesen |
| sein | bleiben | geblieben | er ist geblieben |
Pembentukan Partizip II: verba lemah menambahkan ge- + batang kata + -t (machen → gemacht). Verba kuat menambahkan ge- + batang kata (sering berubah) + -en (sehen → gesehen, sprechen → gesprochen). Verba dengan prefiks tak terpisahkan (be-, ver-, er-, ent-, zer-, ge-) TIDAK mengambil ge-: verstehen → verstanden, bezahlen → bezahlt. Verba berprefiks terpisah menyisipkan -ge- di antara prefiks dan batang kata: aufstehen → aufgestanden, anrufen → angerufen.
Bahasa Jerman memiliki dua cara sopan untuk mengatakan 'saya ingin'. Yang pertama adalah 'möchte', yang secara historis merupakan Konjunktiv II dari 'mögen' (menyukai) tetapi berfungsi sebagai verba modalnya sendiri dalam penggunaan modern:
| Persona | möchte (ingin) |
|---|---|
| ich | möchte |
| du | möchtest |
| er / sie / es | möchte |
| wir | möchten |
| ihr | möchtet |
| sie / Sie | möchten |
Seperti semua verba modal, 'möchte' dikonjugasikan di posisi V2 dan verba utama tetap sebagai infinitif telanjang di akhir klausa. 'Möchte' juga bisa langsung mengambil kata benda tanpa verba apa pun ('Ich möchte einen Kaffee' = Saya ingin secangkir kopi).
Pilihan kedua adalah 'würde gerne' + Infinitiv. 'Würde' adalah Konjunktiv II dari werden, dan 'gerne' (dengan senang hati) menandakan antusiasme. Strukturnya: subjek + würde (V2) + ... + gerne + infinitif (akhir). 'Würde gerne' sedikit lebih hangat dan lebih disukai untuk tindakan yang akan kamu nikmati, sementara 'möchte' adalah bentuk standar untuk memesan, meminta, dan harapan sopan.
Kedua bentuk ini jauh lebih sopan daripada 'wollen'. Di toko atau restoran, selalu katakan 'Ich möchte' atau 'Ich hätte gerne', jangan pernah 'Ich will'.
Bahasa Jerman tidak memiliki tense kontinu khusus seperti bahasa Inggris. 'Ich lese' mencakup baik 'saya membaca' maupun 'saya sedang membaca'. Ketika penutur ingin menekankan bahwa tindakan sedang terjadi saat ini juga, kata keterangan 'gerade' (saat ini, baru saja) ditambahkan sebelum atau sesudah verba:
| Pola | Contoh | Bahasa Indonesia |
|---|---|---|
| subjek + verba + gerade | Ich esse gerade. | Saya sedang makan sekarang. |
| subjek + gerade + verba (urutan S/O/V) | Was machst du gerade? | Kamu sedang ngapain sekarang? |
Bentuk yang lebih tegas, regional/kolokial (sering disebut rheinische Verlaufsform, umum di Jerman bagian barat dan standar dalam bahasa Belanda lisan) adalah 'am + infinitif yang digunakan sebagai kata benda':
| Pola | Contoh | Bahasa Indonesia |
|---|---|---|
| sein + am + Infinitiv | Ich bin am Lesen. | Saya sedang membaca (saat ini). |
| sein + dabei + zu + Inf | Ich bin dabei, das Buch zu lesen. | Saya sedang di tengah-tengah membaca buku itu. |
Bentuk 'am + Infinitiv' banyak digunakan dalam percakapan tetapi masih terasa kolokial dalam tulisan. 'Dabei, zu + Infinitiv' sepenuhnya standar dan sedikit lebih formal. Catatan: infinitif yang digunakan sebagai kata benda ditulis dengan huruf kapital (am Lesen, beim Essen). 'Gerade' adalah pilihan yang paling umum dan paling aman bagi pelajar.
'Können' adalah verba modal untuk kemampuan, izin (informal), dan kemungkinan. Seperti keenam verba modal lainnya, ia menunjukkan perubahan vokal pada bentuk tunggal (ö → a) dan bentuk er/sie/es tidak memiliki akhiran -t:
| Persona | können (bisa) |
|---|---|
| ich | kann |
| du | kannst |
| er / sie / es | kann |
| wir | können |
| ihr | könnt |
| sie / Sie | können |
Struktur: subjek + können (V2) + ... + infinitif (akhir). 'Können' juga berfungsi sebagai verba penuh (tanpa infinitif lain) yang berarti 'tahu cara melakukan, menguasai' sebuah bahasa atau keterampilan: 'Ich kann Deutsch' = Saya bisa/menguasai bahasa Jerman. Untuk permintaan sopan ('Bisakah kamu...?'), bahasa Jerman menggunakan Konjunktiv II 'könnte' (ich könnte, du könntest, er könnte, wir könnten, ihr könntet, sie könnten). 'Könnten Sie mir helfen?' adalah rumus sopan yang sangat umum.
Jangan bingungkan 'können' (kemampuan/kemungkinan) dengan 'dürfen' (izin, 'diperbolehkan'). 'Kann ich rauchen?' secara harfiah bertanya 'Apakah saya mampu merokok?' tetapi secara kolokial cocok untuk 'Bolehkah saya merokok?'. Versi yang benar secara ketat adalah 'Darf ich rauchen?'.
Verba berprefiks terpisah ada di mana-mana dalam bahasa Jerman. Prefiksnya membawa tekanan dan makna paling konkret, dan secara fisik terlepas dalam klausa utama. Prefiks umum meliputi: ab-, an-, auf-, aus-, bei-, ein-, fest-, fort-, her-, hin-, los-, mit-, nach-, vor-, weg-, weiter-, wieder-, zu-, zurück-, zusammen-.
| Verba | Makna | Present (er) | Perfekt | Partisip lampau |
|---|---|---|---|---|
| aufstehen | bangun | er steht ... auf | ist aufgestanden | aufgestanden |
| ankommen | tiba | er kommt ... an | ist angekommen | angekommen |
| anrufen | menelepon | er ruft ... an | hat angerufen | angerufen |
| aufmachen | membuka | er macht ... auf | hat aufgemacht | aufgemacht |
| zumachen | menutup | er macht ... zu | hat zugemacht | zugemacht |
| einkaufen | berbelanja | er kauft ... ein | hat eingekauft | eingekauft |
| mitkommen | ikut serta | er kommt ... mit | ist mitgekommen | mitgekommen |
| ausgehen | keluar/pergi bersenang-senang | er geht ... aus | ist ausgegangen | ausgegangen |
| abfahren | berangkat | er fährt ... ab | ist abgefahren | abgefahren |
| zurückgeben | mengembalikan | er gibt ... zurück | hat zurückgegeben | zurückgegeben |
Ke mana prefiksnya pergi? - Klausa utama, tense sederhana: prefiks di posisi paling akhir. 'Ich stehe um sieben auf.' - Setelah verba modal: verba tetap sebagai satu kata di akhir (infinitif). 'Ich muss um sieben aufstehen.' - Perfekt: -ge- disisipkan di antara prefiks dan batang kata. 'Ich bin um sieben aufgestanden.' - Klausa subordinat (weil, dass, wenn): seluruh kata tetap bergabung, di posisi paling akhir. 'Er sagt, dass er um sieben aufsteht.' - Imperatif (du): prefiks terbang ke akhir. 'Steh auf!' = Bangun!
Verba dengan prefiks terpisah yang berkaitan dengan pergerakan (aufstehen, ankommen, abfahren, ausgehen) mengambil sein dalam Perfekt; verba aktivitas (anrufen, aufmachen, einkaufen) mengambil haben. Pilihannya mengikuti aturan verba bantu yang umum (lihat bagian haben/sein).
Enam verba modal adalah können (bisa/mampu), müssen (harus), sollen (seharusnya), wollen (ingin), dürfen (diperbolehkan), dan mögen (menyukai) / bentuk subjungtifnya möchte (ingin). Semuanya tidak beraturan dalam present: sebagian besar menunjukkan perubahan vokal pada bentuk tunggal (ich kann, du kannst, er kann; ich muss, du musst, er muss). Verba modal dikonjugasikan di posisi V2 dan verba utama tetap sebagai infinitif telanjang di akhir klausa, membentuk kurung verbal. Dalam klausa subordinat, verba modal berpindah ke posisi paling akhir, setelah infinitif.
Banyak verba Jerman dibentuk dengan sebuah prefiks bertekanan (auf-, an-, ab-, aus-, ein-, mit-, vor-, zu-, weg-, zurück-...) yang terlepas dalam klausa utama. Batang kata yang terkonjugasi tetap di posisi V2 dan prefiksnya terbang ke akhir klausa. Dalam infinitif, dalam klausa subordinat, dan setelah verba modal, verba tersebut ditulis sebagai satu kata. Partizip II dibentuk dengan menyisipkan -ge- di antara prefiks dan batang kata: aufstehen → aufgestanden, anrufen → angerufen. Prefiks tak bertekanan (be-, ent-, er-, ge-, ver-, zer-) tidak dapat dipisahkan dan tidak pernah terlepas.
Bahasa Jerman memiliki dua penanda negasi. 'Kein' menegasikan kata benda yang seharusnya mengambil artikel indefinit atau tanpa artikel sama sekali; ia berdeklinasi persis seperti 'ein' (kein, keine, keinen, keinem...). 'Nicht' menegasikan segala hal lain: verba, adjektiva, adverbia, frasa preposisional, atau seluruh kalimat. Aturan posisi untuk 'nicht': ia diletakkan sebelum unsur yang dinegasikannya (adjektiva, tempat, adverbia cara) dan di posisi paling akhir klausa ketika menegasikan seluruh verba atau kalimat. Dalam struktur kurung, ia berada tepat sebelum bagian verba kedua di akhir.
Pertanyaan ya/tidak berpola V1: verba terkonjugasi berpindah ke posisi pertama, subjek langsung mengikutinya. Pertanyaan wh- diawali dengan kata tanya (wer 'siapa', was 'apa', wo 'di mana', wohin 'ke mana', woher 'dari mana', wann 'kapan', warum 'mengapa', wie 'bagaimana', welcher 'yang mana', wie viel(e) 'berapa banyak') dan kemudian tetap mengikuti pola V2, sehingga verba tetap di posisi kedua. 'Wer' berdeklinasi menurut kasus: wer (N), wen (A), wem (D), wessen (G). Untuk meminta sesuatu dengan sopan, biasanya ditambahkan 'bitte'.
Bahasa Jerman tidak memiliki satu bentuk jamak baku. Pola yang paling umum adalah: -e (sering disertai umlaut pada maskulin: der Tisch → die Tische, der Stuhl → die Stühle); -er (dengan umlaut jika memungkinkan, kebanyakan netral: das Kind → die Kinder, das Buch → die Bücher); -(e)n (kebanyakan feminin: die Frau → die Frauen, die Blume → die Blumen); -s (kata pinjaman dan kata pendek: das Auto → die Autos, das Hotel → die Hotels); tanpa akhiran tetapi dengan umlaut (beberapa maskulin/netral berakhiran -er, -el, -en: der Bruder → die Brüder, der Apfel → die Äpfel). Semua bentuk jamak mengambil artikel 'die' dalam nominatif.
Sebuah adjektiva sebelum kata benda harus mengambil akhiran yang menandakan gender, jumlah, dan kasus; hanya adjektiva predikatif (setelah sein, werden, bleiben) yang tetap tidak berinfleksi: 'Das Haus ist alt'. Ada dua paradigma utama. Deklinasi lemah mengikuti artikel definit (der, die, das, dieser...), yang sudah membawa informasi kasus, sehingga adjektiva hanya mengambil -e atau -en. Deklinasi kuat digunakan ketika tidak ada artikel dan adjektiva itu sendiri harus menandakan kasus; akhirannya kemudian terlihat seperti artikel definit (kalter Kaffee, gutes Bier, frische Milch). Setelah artikel indefinit (deklinasi campuran), polanya adalah campuran dari keduanya.